Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Agustus 2014

Cangkir yang Cantik


     Sepasang kakek dan nenek pergi  berbelanja di sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu", kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat", ujar si kakek.
     Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud itu berbicara, "Terimakasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidaklah cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar."
     "Kemudian ia memulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Teriakku, tetapi orang itu bekata, Belum!, lalu ia mulai menyodokku dan meninjuku berulang-ulang."
     "Stop! Stop! Teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih parah lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian."
     "Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Cukup! Cukup! Teriakku lagi. Tapi orang ini kembali menyahut, Belum!"
     Akhirnya, ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir selesailah penderitaanku. Tapi, ternyata belum. Setelah dingin, ia menyerahkan aku ke seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak.
     Wanita itu berkata, "Belum!". Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. "Tolong! Tolong! Hentikan penyiksaan ini", sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas 'menyiksaku' kini dibiarkannya diriku menjadi dingin.
     Setelah benar-benar dingin, seorang wanita mengangkat dan menempatkanku didekat kaca. Aku melihat diriku dan aku terkejut sekali. Hampir-hampir aku tidak percaya, karena dihadapanku telah berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua penderitaan dan kesakitanku yang lalu menjadi sirna tatkala aku melihat diriku sekarang ini.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

     Seperti itulah Tuhan membentuk kita. Ibarat sebuah cangkir yang cantik. Pada saat Tuhan membentuk kita mengarungi hidup ini, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara Tuhan untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.
     Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila anda jatuh kedalam berbagai cobaan, sebab anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan kekuatan. Biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya anda menjadi sempurna dan utuh, tidak kurang suatu apapun.
     Apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan berkecil hati. Karena Dia sedang membentuk anda. Proses pembentukkannya memang menyakitkan dan membuat penderitaan. Namun percayalah, setelah semua proses itu selesai, anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan menghasilkan anda.

Sumber: ceritamotivasimendidik.blogspot.com

Selamat membaca...
Semoga bermanfaat...
Terimakasih...

Kamis, 24 Juli 2014

Semangkuk Mie


     Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.
     Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakkan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.
     Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?"  , "Ya tetapi aku tidak membawa uang." jawab Ana dengan malu-malu.
     "Tidak apa-apa, aku mentraktirmu" jawab sipemilik kedai. "Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu."
      Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudain air matanya mulai berlinang. "Ada apa nona?" tanya sipemilk kedai. "Tidak apa-apa, aku hanya terharu" jawab Ana sambil mengeringkan air mata.
     "Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi! Tetapi.. ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi. Kau, seorang yang baru kukenal, tapi begitu peduli denganku dibanding dengan ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai.
     Pemilik kedai itu setelah mendangar perkataan Ana, menarik nafas panjang lalu berkata: " Nona, kenapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterimakasih padanya? Dan kau malah bertengkar dengannya."
     Ana terhenyak mendengar hal tersebut. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku padanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya."
     Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang kerumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. 
     Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dngan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana, kau sudah pulang. Cepat masuklah, ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau tidak memakannya sekarang."
     Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukkan ibunya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
     Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita. 


Selamat membaca...
Semoga bermanfaat...
Terimakasih...